Proyek ambisius ini telah berjalan selama enam bulan, di mana para siswa dari kelas I hingga kelas VI aktif mengumpulkan botol dan limbah plastik di lingkungan sekolah. Diperkirakan, lebih dari 2.000 botol bekas telah dimanfaatkan untuk menciptakan total 23 pohon Natal dan beragam dekorasi lainnya.
Kepala Sekolah SDK Santo Yusup, Isidora Iva Handayani, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah perwujudan nyata dari kurikulum sekolah. "Tema P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) salah satunya adalah Gaya Hidup Berkelanjutan, yaitu kita memanfaatkan barang bekas, mengolah limbah menjadi sesuatu yang berguna. Karena kita mendekati Natal, barang bekas ini kita buat pernak-pernik Natal dan salah satunya pohon Natal," ujarnya, Kamis (11/12/2025).
Selain pohon setinggi tiga meter sebagai pusat perhatian, 22 pohon Natal berukuran kecil yang juga dibuat dari limbah ditempatkan di setiap ruang kelas. Para siswa menunjukkan daya cipta luar biasa dengan menggunakan berbagai jenis limbah, mulai dari sendok dan gelas plastik bekas, hingga kertas bekas bungkus semen, untuk merangkai buah Natal, lingkaran Adven, dan bahkan dekorasi Gua Natal.
Kolaborasi apik antara siswa dan guru menjadi kunci kesuksesan proyek ini. Dalam proses yang memakan waktu sekitar dua minggu, ketelitian, kesabaran, dan ketepatan ukuran sangat ditekankan. Lebih dari sekadar dekorasi, kegiatan ini memiliki misi pendidikan karakter yang kuat.
"Kami itu lebih menekan pada karakter. Dengan kegiatan ini, kami mengajarkan anak-anak untuk tidak buang sampah sembarangan, mengetahui cara bekerjasama, dan terus berkreativitas agar ketika mereka lulus nanti menjadi anak yang mandiri," imbuh Kepala Sekolah.
Karya-karya ramah lingkungan ini kini dipamerkan di setiap kelas, memperindah suasana Natal di sekolah sekaligus menjadi inspirasi bagi upaya daur ulang.
Priska A.W









.gif)

Posting Komentar