Surakarta berkolaborasi dengan SMP Pangudi Luhur (PL) Bintang Laut Surakarta
menghadirkan pertunjukan Wayang Dongeng Timun Mas: Cinta Ibu yang Menjaga
dalam rangkaian acara Pasar Raya di Pendopo Gendhon Humardani, Taman Budaya
Jawa Tengah (TBJT), Rabu, 29 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari
upaya pengabdian kepada masyarakat melalui pengembangan pertunjukan edukatif
yang memadukan seni pedalangan, teater, karawitan, dan tari untuk mengenalkan
budaya wayang kepada anak-anak.
Pertunjukan ini mengangkat cerita
rakyat Timun Mas dengan pendekatan kreatif yang ceria, ringan, dan humoris.
Melalui perpaduan berbagai disiplin seni, cerita disajikan dengan cara yang
lebih dekat dengan dunia anak-anak, tanpa meninggalkan nilai-nilai kehidupan
yang terkandung di dalamnya. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi upaya
menghadirkan seni tradisi dalam bentuk pertunjukan yang segar, komunikatif, dan
relevan dengan pengalaman penonton muda.
Karya Wayang Dongeng Timun Mas:
Cinta Ibu yang Menjaga ditulis oleh Seruni Widawati, S.Sn., M.Sn.,
disutradarai oleh Seruni Widaningrum, S.Sn., M.Sn., dengan koreografi oleh
Chresti Mudestaninggar Suyitno, S.Sn., serta penataan iringan oleh Selvi Tri
Hapsari, S.Sn. Kolaborasi ini mempertemukan kekuatan dramatik teater, ekspresi
wayang, dinamika gerak tari, dan iringan karawitan dalam satu kesatuan
pertunjukan.
Salah satu keunikan karya ini
terlihat dalam adegan ketika Timun Mas menghadapi Buta Ijo. Adegan tersebut
dikemas secara kolaboratif melalui pergantian permainan antara wayang dan
pemain manusia. Pengolahan ini menghadirkan dinamika visual yang menarik sekaligus
memberi pengalaman pertunjukan yang berbeda bagi penonton. Para dalang tidak
hanya dituntut terampil memainkan wayang, tetapi juga memiliki kemampuan
teatrikal untuk tampil dan berekspresi secara langsung di atas panggung.
Wayang juga dimainkan tanpa
menggunakan kelir maupun debog sebagaimana lazimnya pertunjukan wayang kulit.
Kehadiran wayang secara langsung di ruang panggung memungkinkan interaksi yang
lebih terbuka dengan pemain manusia dan elemen seni lainnya. Pendekatan
tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi penyajian pedalangan yang dapat
memperluas cara masyarakat, khususnya anak-anak, dalam menikmati pertunjukan
wayang.
Dari segi cerita, pertunjukan ini
tetap mempertahankan sejumlah unsur penting dalam kisah Timun Mas, tetapi
memberikan penekanan dramatik yang berbeda. Mbok Randha dikisahkan tanpa
sengaja tertidur di hutan, di tempat tinggal Buta Ijo. Sebagai hukuman, ia
diperintahkan menanam biji timun di rumahnya dan menyerahkan hasilnya 17 tahun
kemudian. Biji tersebut tumbuh menjadi tanaman timun yang menghasilkan buah
berisi seorang bayi perempuan. Bayi itu kemudian dirawat dan dibesarkan oleh
Mbok Randha dengan penuh kasih sayang.
Cerita berfokus pada perjuangan
seorang ibu dalam merawat, menjaga, dan menyelamatkan anaknya. Nilai kasih
sayang, tanggung jawab, keberanian, dan pengorbanan disampaikan melalui
rangkaian peristiwa yang mudah dipahami anak-anak. Pertunjukan ditutup dengan
keberhasilan Timun Mas menyelamatkan diri dan kembali pulang untuk memeluk
ibunya. Akhir cerita ini memperkuat pesan tentang pentingnya kasih sayang dan
ikatan antara ibu dan anak.
Iringan karawitan turut membangun
suasana pertunjukan yang dekat dengan dunia anak. Selain menggunakan unsur
musikal tradisional, iringan dikemas dengan sentuhan populer, termasuk bagian
rap, sehingga terasa lebih dinamis dan menghibur. Petuah-petuah kehidupan
disampaikan melalui perpaduan dialog, musik, gerak, dan adegan komedi yang
membuat pesan pertunjukan lebih mudah diterima oleh penonton muda.
Menurut Seruni Widawati, karya ini
dirancang agar anak-anak dapat mengenal dan mencintai budaya melalui cara yang
dekat dengan kehidupan mereka. Pengenalan wayang tidak hanya dilakukan dengan
mengajak anak-anak menonton pertunjukan, tetapi juga melibatkan mereka dalam
proses kreatif. Sebelum pementasan, anak-anak diberi kesempatan mewarnai wayang
yang akan digunakan dalam pertunjukan.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian
penting dari pendekatan edukasi budaya yang diterapkan. Anak-anak tidak sekadar
menjadi penonton, tetapi turut mengalami proses kreatif yang memperkenalkan
bentuk, karakter, dan daya ekspresi wayang. Wayang yang digunakan pun dirancang
dengan pilihan warna yang menarik dan sesuai dengan karakter penonton anak.
Melalui kegiatan ini, ISI Surakarta
dan SMP PL Bintang Laut Surakarta berupaya membangun kedekatan anak-anak dengan
seni pedalangan sekaligus menumbuhkan ketertarikan untuk mengenal dan
melestarikan wayang sebagai warisan budaya Indonesia. Pendekatan yang memadukan
pertunjukan, kreativitas, dan keterlibatan anak diharapkan dapat menghadirkan
pengalaman belajar budaya yang menyenangkan.
Kehadiran Wayang Dongeng Timun
Mas: Cinta Ibu yang Menjaga dalam rangkaian Pasar Raya TBJT menunjukkan
bahwa pengabdian kepada masyarakat melalui seni dapat menjadi ruang perjumpaan
antara tradisi, kreativitas, dan pendidikan. Melalui kolaborasi lintas disiplin
seni dan kemitraan dengan sekolah, wayang dihadirkan sebagai seni pertunjukan
yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki potensi edukatif dalam
memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Spj







