Header Ads Header Ads Header Ads Header Ads Header Ads ' alt='Header Ads'/> Header Ads Header Ads Header Ads Header Ads Header Ads

Berniat Melerai Pertikaian Antar Kelompok Saat Takbir Keliling, WB Warga Nglindur,Melapor Karena Merasa Jadi Korban Pengeroyokan


 Gunungkidul -MNnews // Seorang warga Padukuhan Nglindur, Kapanewon Girisubo, berinisial WB (45), mengaku menjadi korban pengeroyokan saat berupaya meredam ketegangan antar kelompok warga, Kamis (19/3/2026) malam saat acara takbir keliling hari raya Idul Fitri 1447H/2026.


Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.30 WIB di wilayah perbatasan wilayah Kalurahan Nglindur dan Kalurahan Semugih, tepatnya di Padukuhan  Semampir, Kalurahan Semugih Kapanewon Rongkop. Saat itu, korban keluar rumah untuk mengikuti takbir keliling. Namun, karena rombongan anaknya tertinggal, ia berhenti di lokasi yang tengah terjadi gesekan antar warga.

Menurut penuturan korban, dirinya tidak terlibat dalam konflik. Justru, ia berupaya menenangkan situasi agar tidak terjadi bentrokan. Bahkan, ia mengaku sempat diminta aparat setempat untuk membantu mengondisikan massa.

“Sudah saya sampaikan ke kedua pihak agar kondusif. Bahkan saya kembali ke lokasi untuk memastikan tidak ada gesekan lagi,” ungkap WB.

Korban juga mengaku sempat berkoordinasi dengan petugas setempat guna meminta pengawalan terhadap rombongan warga Nglindur.

Namun situasi justru berubah. WB tiba-tiba dituding sebagai provokator oleh salah satu kelompok. Tuduhan tersebut memicu emosi massa hingga berujung aksi pengeroyokan.

Akibat kejadian itu, korban mengalami luka cukup serius, di antaranya satu gigi copot, luka di pelipis, siku, lutut, serta memar di bagian pinggang dan paha.

Tak hanya itu, rekan korban, Lambang Nugroho, yang berusaha memberikan pertolongan juga turut menjadi sasaran kekerasan. Hingga kini, ia dilaporkan masih mengalami trauma fisik dan belum dapat beraktivitas normal akibat luka memar di tubuhnya.

Kasus dugaan pengeroyokan tersebut telah dilaporkan secara resmi ke Polres Gunungkidul pada Jumat (20/3/2026). Tiga orang berinisial SPT, WHN, dan TGN, warga Semugih, Kapanewon Rongkop, dilaporkan terkait peristiwa tersebut. 

Peristiwa ini memunculkan sorotan terhadap pengamanan malam takbiran di wilayah tersebut. Upaya mediasi yang seharusnya dapat meredam konflik justru berujung kekerasan. Aparat penegak hukum pun didesak untuk bertindak tegas dan transparan dalam mengusut kasus ini serta memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Beberapa warga masyarakat Rongkop yang mendengar kabar tawuran saat takbir keliling, banyak yang mengusulkan untuk tahun berikutnya tidak diijinkan adanya takbir keliling lagi. 

Penulis : Wajiyo 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama