YOGYAKARTA – MNnews // Sebagai bentuk rasa syukur atas berkah alam, Kasultanan Yogyakarta kembali menyelenggarakan tradisi tahunan Labuhan Parangkusumo di pesisir selatan Kabupaten Bantul. Senin 19 Januari 2026.
Upacara adat ini bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Makna Filosofis: Kata "Labuhan" berasal dari kata labuh (persembahan). Tradisi ini bermakna membuang atau menghanyutkan benda-benda tertentu milik Keraton sebagai simbol membuang hal-hal buruk demi keselamatan Sultan dan rakyat.
Parangkusumo dipilih karena nilai historisnya sebagai tempat bertapa Panembahan Senopati. Menurut legenda, di lokasi inilah pendiri Mataram tersebut bertemu Kanjeng Ratu Kidul dan mendapat dukungan untuk memimpin kerajaan.
Bersama dengan Labuhan Merapi di sisi utara, Labuhan Parangkusumo di sisi selatan melambangkan menjaga kesucian dan kelestarian Bumi Mataram (konsep Hamemayu Hayuning Bawana).
Upacara ini dilakukan dengan pranata Keraton yang sangat ketat dan khidmat, menjadikannya salah satu warisan budaya paling sakral yang masih lestari hingga saat ini di Yogyakarta.
Labuhan Parangkusumo merupakan manifestasi doa dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Yang Maha Kuasa. Melalui ritual ini, masyarakat diingatkan kembali akan kewajiban merawat bumi yang telah memberikan ruang kehidupan bagi semua makhluk.









.gif)


Posting Komentar