Panewu Rongkop Esi Suharto SH Dan Bhabinsa Surono Ketiban Sampur Oleh Penari Gejok Lesung Krido Sumawur


 

Gunungkidul, mitranegaranews.com,- Panewu Kapanewon Rongkop Esi Suharto SH dan Bhabinsa Kalurahan Pringombo Surono,  tidak menduga bakal ketiban sampur para penari dan penyanyi emak - emak dari group seni gejok lesung *Krido Sumawur*  padukuhan Pringombo.

Dalam event gelar budaya hari ulang tahun ke 112 Kalurahan Pringombo pada hari Rabu pon 8 November 2023, baik Panewu Rongkop Esi Suharto maupun Bhabinsa Surono sama - sama sedang menikmati jalanya pentas seni gejok lesung di panggung hiburan di lapangan sepak bola padukuhan Pakel. Tidak disangka - sangka, dua orang penari dan penyanyi gejok lesung turun pangggung dan menghampiri beliau - beliau dan mengalungkan selendang warna orange kepadanya. Hal ini pertanda keduanya diajak joget dan nyanyi bersama keatas panggung dengan iringan seni gejok lesung kolaborasi.

Ketika dimintai sedikit komentarnya, Panewu Rongkop, Esi Suharto SH mengatakan "wah bikin deg - degan mas, lha nggak bisa ngibing (jogetan) jadi ya saisane" ( sebisanya), kata beliau.

Sementara itu Bhabinsa Kalurahan Pringombo Surono yang juga ketiban sampur merasa, tidak mengira, secara spontan dan menyambut dengan baik. Dan ikut partisipasi memeriahkan dalam kegiatan gelar budaya.
Bhabinsa Surono yang sudah bertugas di Rongkop sekitar 10 tahun, dimana yang lima tahun menjadi bhabinsa kalurahan Karangwuni dan sudah lima tahun ini di kalurahan Pringombo. Menurutnya, warga Pringombo semuanya baik, open (terbuka), gampang diajak bergaul dalam bersosialisasi serta kegotong - royongan mereka bagus, kata Surono.

Baik panewu Esi Suharto maupun bhabinsa Surono meskipun merasa kaget ketiban sampur namun tampak hapy berjoget diatas panggung dengan para penari dan penyanyi gejok lesung, apalagi seorang MC Sujarna juga ikut joget bersama mereka, suasana menjadi meriah dan menarik.

Ternyata tidak saja panewu dan bhabinsa yang ketiban sampur, tapi bu lurah  Ermina dan ketua dewan kebudayaan kapanewon Rongkop Widada juga dipaksa naik panggung untuk joget bersama penari dan penyanyi gejok lesung yang rata - rata emak - emak.

Tentu saja dengan adanya jogetan para pejabat ini membuat susana lebih meriah. Selain gejok lesung juga ada seni thek - thek atau thoklik dari kelomlok ronda kampung dan dimeriahkan ibu - ibu warga Pakel yang pentasnya di tanah lapang depan panggung  karena berjumlah ratusan orang. Dengan menampilkan banyak lagu thek - thek dan memberikan kejutan pada Lurah Pringombo dengan membentangkan spanduk bertuliskan " Selamat ulang tahun kalurahan Pringombo" dengan lagu selamat ulang tahun gubahan berbahasa jawa. Pada saat itu group thek - thek atau thoklik juga membuat formasi tanda 112 tahun Kalurahan Pringombo.

Usai pentas thek - thek masih banyak tampilan seni lain seperti terbangan sholawat jawa, hadroh, jathil, reog, dan kesenian - kesenian lain. Pentas seni dalam gelar budaya tersebut berakhir hingga sore menjelang petang. [Penulis : Wajiyo]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama