BLITAR, MNnews | Suasana khidmat dan penuh kebersamaan terasa di area Makam Bung Karno, Blitar, pada Jumat (18/4/2025) malam. Acara bertajuk "Doa Menumbuhkan Rasa Kebersamaan dalam Membangun Nusantara Damai" sukses digelar mulai pukul 19.00 WIB, dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari berbagai latar belakang.
Para pegiat budaya Nusantara tampak hadir, di antaranya Mahaguru Sri Jaya Nara, Sri Guru Jaya Sakti dari Ubud, Bali, serta Sri Guru Ghana dari Tabanan, Bali. Tak ketinggalan, seniman dan budayawan Blitar Raya turut memeriahkan acara.
Keunikan acara semakin terasa dengan kehadiran perwakilan dari tujuh agama. Selain Sri Guru Jaya Sakti yang mewakili agama Hindu, hadir pula Bapak Heri Cahyono (Islam), Pendeta Nababan (Kristen), Bapak Muryani (Buddha), Bapak Panji Waskito (Konghucu), Ki Mariani (Penghayat Kepercayaan), dan Ibu Anik Dea (Katholik).
Rangkaian acara dimulai dengan arak-arakan para tamu yang berjalan kaki dari pertigaan PIPP menuju gerbang Makam Bung Karno. Sambil membawa lilin, langkah mereka diiringi oleh derap pecut dan nyala obor yang dibawa oleh beberapa pengiring. Setibanya di gerbang makam, sebuah upacara penyambutan hangat telah menanti.
Seluruh hadirin kemudian memasuki paseban dan acara dibuka secara resmi dengan penampilan tarian khas Jawa yang memukau.
Sambutan disampaikan oleh perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Pinisepuh dari Blitar, serta Mahaguru dari Bali.
Dalam sambutan tokoh - tokoh tersebut, ditekankan mengenai pentingnya kesadaran akan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai warga negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Selain itu, disampaikan pula mengenai kewajiban bersama untuk menghormati para pejuang dan pendiri bangsa, serta menghormati leluhur suci Nusantara. Harapan besar disematkan agar melalui doa bersama ini, nilai-nilai moralitas kebangsaan dapat kembali terinspirasi, sehingga memperkuat toleransi dan persatuan bangsa.
Mahaguru Jaya Sakti dalam pesannya menyoroti potensi kekayaan Indonesia yang menjadikannya incaran banyak pihak. Beliau mengingatkan akan bahaya perpecahan antarbangsa yang dapat melunturkan kehebatan negeri ini. "Orang suci pasti berfikir kebersamaan. Nilai luhur itu telah dituangkan dalam Pancasila. Bung Karno masih menjaga negara ini hingga saat ini," demikian inti pesan yang beliau sampaikan.
Suasana semakin syahdu ketika rombongan tamu dari Bali mempersembahkan lagu "Nusantaraku" yang diiringi alunan gitar dan kendang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama di area Makam Bung Karno. Secara bergantian, perwakilan dari tujuh agama memanjatkan doa sesuai dengan keyakinan masing-masing, memohon kedamaian dan persatuan bagi bangsa Indonesia.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan ramah tamah, di mana para hadirin berkesempatan untuk mempererat tali persaudaraan. Suasana keakraban semakin terasa ketika rombongan tamu dari Bali kembali mempersembahkan sebuah nyanyian berjudul "Toleransi" dan "Kejayaan Nusantara", menambah kehangatan malam kebersamaan di kawasan makam Sang Proklamator.
Priska








.gif)

Posting Komentar